Archive

Kunjungan

Sosial Media


@Asrar Aspia Manurung

@Asrar

Sabtu, 14 Desember 2013

Tantangan dan Penguatan Pendidikan

Teori medan (Field Thory) dari Kurt Lewin mengemukakan bahwa siswa dalam belajar berada dalam suatu medan. Dalam situasi belajar siswa menhadapi suatu tujuan yang ingin di capai, tetapi selalu terdapat hambatan dalammempelajari bahan belajar tersebut. Apabila hambatan itu telah diatasi, artinya tujuan belajar telah tercapai, maka ia akan berada dalam medan baru dan tujuan baru, demikian seterusnya. Menurut teori ini, belajar adalah berusaha mwngatasi hambatan-hambatan untuk mencapai tujuan. Agar pada diri anak timbul motif yang kuat untuk mengatasi hambatan dengan baik, maka bahan pelajaran harus menantang. Tantangan yang dihadapi dalam bahan belajar membuat siswa bersemangat untuk mengatasinya. Bahan pelajaran yang baru yang banyak mengandung masalah yang perlu dipecahkan membuat siswa tertantang  untuk mempelajarinya. Penggunaan metode eksperimen, inquiri, dizcovery juga memberikan tantangan bagi siswa untuk belajar secara lebih giat dan sungguh-sungguh. Penguatan positif dan negatif juga akan menantang siswa dan timbul motif untuk memperoleh ganjaran atau terhindar dari hukuan yang tidak menyenangkan.
-          Balikan dan Penguatan
Prinsip belajar yang berkaitan dengan balikan dan penguatan adalah teori belajar operant conditioning dari B.F.Skinner. kunci dari teori ini adalah hukum effeknya Thordike, hubungan stimulus dan respon akan bertambah erat, jika disertai perasaan senang atau puas dan sebaliknya bisa lenyap jika disertai perasaan tidak senang.
-          Perbedaan individual

Siswa merupakan makhluk individu yang unikyang mana masing-masing mempunyai perbedaan yang khas seperti perbedaan intelegensi, minat bakat, hobi,  tingkah laku maupun sikap, mereka berbeda pula dalam hal lataer belakang kebudayaan, sosial, ekonomi, dan keadaan orang tuanya. Guru harus memahami perbedaan siswa secara individu agar dapat melayani pendidikan yang sesuai dengan perbedaannya itu. Siswa akan berkembang sesuai dengn kemsampuannya masing-masing, setiap siswa juga memiliki tempo perkembangan sendiri-sendiri maka guru dapat memberi pelajarn sesuai dengan temponya masing-masing. Perbedaan individual ini berpengaruh pada cara dan hasil belajar siswa. Karenanya perbedaan individual perlu diperhatikan oleh guru dalam upaya pembelajaran, sistem pendidikan klasik yang dilakukan di sekolah kita kurang memperhatikan masalah perbedaan individual, umumnya pelaksanaan pembelajaran di kelas dengan melihat siswa sebagai individu dengan kemampuan rata-rata, kebiasaan yang kurang lebih sama, demikian pula dengan pengetahuan.

0 komentar

Posting Komentar

Pak Asrar Aspia Manurung | Blog Pak Asrar Aspia Manurung | Asrar Aspia Manurung. Diberdayakan oleh Blogger.