Archive

Kunjungan

Sosial Media


@Asrar Aspia Manurung

@Asrar

Jumat, 14 Desember 2012

Penyebab Kesulitan Belajar Matematika


Ada beberapa sumber yang patut diduga sebagai penyebab dasar kesulitan siswa. Sumber itu dapat digunakan  sebagai dasar menyusun dugaan (konjektur). Beberapa di antaranya menurut Cooney, Davais dan Henderson (1975) ialah:



1.  Faktor Phisiologis
Bredker, seperti dikutip Cooney dkk. dalam bukunya The Diagnosis and  Treatmen of Learning Difficulties (1975) melaporkan adanya hubungan antara faktor phisiologis dan kesulitan belajar.
-  Persentase kesulitan belajar siswa yang mempuyai gangguan penglihatan lebih tinggi daripada yang tidak mengalami gangguan penglihatan.
-  Persentase kesulitan belajar dari siswa memiliki gangguan pendengaran lebih tinggi dari pada yang tidak mengalaminya.
Abuse, seperti juga dikutip Cooney dkk. (1995), melaporkan bahwa siswa yang menelan pil ekstasi tulisannya tidak jelas, kemalasannya  naik luar biasa, sekonyong-konyong menunjukkan perangai yang tidak rasional, depresi, tak sadar, takut, atau sebaliknya: tertawa-tawa. Tampilannya labil: berubah tiba-tiba, kesehatan menurun. Hal-hal demikian jelas merupakan sumber kesulitan dalam menerima pelajaran. Di samping faktor phisiologis, sesunggguhnya faktor neurologis juga sering menjadi penghambat, misalnya karena sistem koordinasi syaraf yang terganggu menyebabkan gangguan pula dalam menerima dan mengembangkan bahan ajar bagi siswa.
Dalam hal  ini guru umumnya juga tidak memiliki kemampuan untuk mengatasi. Karena itu maka penyerahan kepada pihak atau tangan yang tepat akan dapat membantu memecahkan masalahnya.

2.  Faktor Sosial
Tidak semua  orang tua peduli  terhadap keberhasilan atau ketidakberhasilan anaknya. Ada  yang kepeduliannya berlebihan dan secara bervariasi sampai ada yang sama sekali tidak peduli. Variasi kepedulian  ini  berdampak terhadap motivasi belajar siswa. Bahkan adakalanya ada orang tua yang mengatakan: “Saya dulu ya tidak pernah dapat nilai baik dalam ilmu pasti (matematika), tetapi toh saya berhasil jadi  orang”. Pernyataan ini sangat mungkin menghentikan usaha siswa, memunahkan motivasi siswa dalam belajar matematika. Akibat lebih lanjut adalah adanya sementara siswa lulusan SLTP  yang mengemukakan maksudnya kepada orang tuanya dengan mengatakan “Kalau begitu saya akan melanjutkan sekolah yang tidak ada matematikanya saja”.
Faktor sosial di dalam kelas juga dapat berpengaruh terhadap kelancaran atau kesulitan belajar siswa. Siswa yang tidak dapat bergaul dengan teman sekelasnya, atau tidak memiliki teman, merasa terpencil dan merasa sangat terhina oleh sedikit olokan atau ejekan temannya, bahkan yang tidak langsung sekalipun. Seseorang yang mendapat pengakuan keberadaannya dalam kelas matematika, misalnya, apat  terdorong  semakin maju jika ia menggunakan hal positifnya. Jadi lingkungan belajar di sekolah pun merupakan salah satu faktor sosial. 
Siswa  yang mengalami masalah sosial di rumahnya biasanya dari kalangan keluarga yang kurang memperhatikan  perkembangan belajar putra-putrinya dan bukan semata-mata karena faktor ekonomi. Hal ini  berarti memang mungkin dikarenakan faktor kepedulian pendidikan yang rendah dari orang tuanya atau dapat terjadi karena kesibukan orang tua. Dalam interaksi dengan  teman-teman di kelasnya siswa yang mengalami masalah sosial biasanya bersikap menyendiri, rendah diri atau sebaliknya suka mengambil perhatian di depan teman-temannya.
Demikian pula siswa yang mengalami  masalah sosial berusaha mengambil perhatian di muka guru dan berusaha mendekati guru karena kurang serasinya hubungan dengan teman-temannya. Secara umum siswa yang terlalu introvert (tertutup) atau terlalu extrovert mungkin sebagai reaksi terhadap tekanan sosial dari teman-temannya atau dari orang tuanya.

3.  Faktor Emosional
Siswa yang sering gagal dalam matematika lebih mudah berpikir tidak rasional, takut, cemas, benci pada matematika. Jika demikian maka hambatan itu dapat “melekat” pada diri anak/siswa.Masalah siswa yang termasuk dalam faktor emosional dapat disebabkan antara lain:
a.  Obat-obatan tertentu, seperti obat penenang, ekstasi, dan lain-lain
b.  Kurang tidur
c.  Diet yang tidak tepat
d.  Hubungan yang renggang dengan teman terdekat
e.  Masalah tekanan dari situasi keluarganya di rumah. 

0 komentar

Posting Komentar

Pak Asrar Aspia Manurung | Blog Pak Asrar Aspia Manurung | Asrar Aspia Manurung. Diberdayakan oleh Blogger.